Selasa, 29 Januari 2013

Laporan Lengkap Ekstraksi



BAB I
PENDAHULUAN
I.1  Latar Belakang
            Sejak zaman dahulu, tanaman sering digunakan sebagai obat. Pada waktu itu orang belum mengelolanya secara sempurna seperti pada zaman sekarang ini. Pada saat itu orang hanya tahu suatu khasiat tanaman berdasarkan dari cerita orang yang lebih tua seperti dari ibu ke anaknya. Suatu tanaman obat sering mempunyai khasiat yang berbeda dari tiap daerah.
Pada zaman sekarang ini orang kembali lagi menggeluti bahan alam sebagai bahan penting dalam membuat obat. Para ahli sekarang ini telah memulai meneliti kembali tanaman obat untuk mengetahui khasiat yang lebih mendalam dari tanaman tersebut.
Di daerah-daerah pedalaman, banyak masyarakat yang masih menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mereka anggap mempunyai khasiat untuk pengobatan untuk beberapa penyakit tertentu, tanpa pengetahuan dasar. Ada beberapa kasus, dimana masyarakat menggunakan suatu obat, yang ternyata setelah diketahui zat aktifnya melalui ekstraksi dan identifikasi komponen kimia, ternyata memberikan efek yang berlawanan, hal ini tentunya membahayakan bagi jiwa manusia.
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat obat, mulai dari morfologi, kegunaan, prinsip-prinsip ekstraksi, isolasi dan identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia, khususnya bagi seorang farmasis. Dan pada laporan ini, akan diidentifikasi komponen kimia sampel kulit batang tumbuhan X, dengan terlebih dahulu di ekstraksi.

I.2   Maksud dan Tujuan Praktikum
I.2.1  Maksud Praktikum
 Mengetahui dan memahami cara mengekstraksi dan mengidentifikasi komponen kimia yang terdapat dalam tumbuhan khususnya dengan metode refluks.
I.2.2   Tujuan Praktikum
Mendapatkan hasil ekstraksi dengan menggunakan metode ekstraksi (Refluks) pada sampel kulit batang X.

I. 3   Prinsip Percobaan
Melakukan ekstraksi pada simplisia sampel kulit batang X dengan metode refluks yaitu sampel dimasukkan kedalam labu alas bulat bersama dengan penyari berupa metanol lalu dipanaskan selama beberapa jam, penyari kemudian akan naik melalui dinding kaca dari kondensor yang kemudian akan mengembun karena adanya aliran air dingin di sebelah luar kondensor, hingga akhirnya penyari akan turun kembali membasahi sampel.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Teori Umum
            Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut, jadi ekstrak ialah sediaan yang diperoleh dengan cara mengekstraksi tanaman yang berkhasiat obat dengan ukuran partikel tertentu, dan menggunakan medium pengekstraksi.
            Simplisia yang lunak seperti rimpang,daun, akar, dan ada yang keras seperti biji, kulit kayu, kulit akar, simplisia lunak mudah ditembus oleh cairan penyari, karena itu pada penyarian tidak perlu diserbuk sampai halus, sebaliknya pada simplisia yang keras, perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyarian.
            Proses penyarian dapat dipisahkan menjadi
a.     Pembuatan Serbuk
Pada umumnya penyarian akan lebih baik bila permukaan simplisia bersentuhan dengan cairan penyari makin luas, tetapi dalam pelaksanaannya kehalusan sampel yang terlalu halus akan mempersulit penyaringan, karena butiran halus tadi membentuk suspense yang sulit dipisahkan dengan hasil penyarian. Dengan demikian hasil penyarian tadi tidak murni lagi karena adanya campuran-campuran. Dinding sel merupakan saringan, sehingga zat yang tidak larut masih tetap berada dalam sel. Dengan penyerbukan yang terlalu halus menyebabkan banyak dinding sel yang pecah, sehingga zat tidak diinginkan ikut ke dalam hasil penyarian.
b.     Pembasahan
Pembasahan serbuk sebelum dilakukan penyarian dimaksudkan agar cairan penyari memasuki seluru pori-pori dalam simplisia sehingga mempermudah penyarian selanjutnya,
c.     Penyarian
Pada waktu pembuatan serbuk simplisia, beberapa sel ada yang dindingnya pecah dan ada sel yang dindingnya masih utuh, sel yang didndingnya telah pecah, proses pembebasan sari tidak ada yang menghalangi. Proses penyariannpada sel yang dindingnya masih utuh, zat aktif yang terlarut pada cairan penyari untuk keluar dari sel, harus melewati dinding sel, peristiwa osmosis dan difusi yang berperan pada proses penyarian tersebut.
Adapun beberapa penjelasan singkat mengenai beberapa metode ekstraksi
a.     Prinsip Soxhletasi
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
b.   Prinsip Refluks
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
c.   Prinsip Destilasi Uap Air
Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia, uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi, lalu akan melewati pipa alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah, dan akan memisah antara air dan minyak atsiri.
d.   Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia dengan air pada suhu 90°C selama 15 menit. Infusa di buat dengan cara menghaluskan simplisia yang akan digunakan. Kemudian dicampur dengan air secukupnya dalam sebuah panci dan dipanaskan dalam tangas air selama 15 menit, dihitung mulai dari suhu di dalam panci mencapai 90ÂșC, sambil sekali-sekali diaduk. Infusa diserkai sewaktu masih panas melalui kain flanel. Jika kekurangan air ditambah air mendidih melalui ampasnya. Infusa Simplisia yang mengandung minyak atsiri diserkai setelah dingin. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil, dan mudah tercemar oleh kapang, oleh sebab itu air yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
e.   Dekokta
Prinsipnya hampir sama dengan infuse, perbedaannya pada dekokta digunakan pemanasan selama 30 menit dihitung mulai suhu mencapai 90oC. Cara ini dapat dilakukan untuk simplisia yang mengandung bahan aktif yang tahan terhadap pemanasan.

BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
III,1.1. Alat
            Toples, gelas ukur, timbangan,oven,klem dan statif, erlenmeyer,bejana silinder
III.1.2. Bahan
            Metanol,  simplisia sampel kulit batang X, tissue, aluminium foil, dan kain putih.
III.2.  Cara Kerja
a.  Perkolasi
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang sampel sebanyak 50 gr
3. Dimasukkan sampel ke dalam labu alas bulat
4. Dimasukkan methanol hingga semua sampel terendam
5. Dipasang labu alas bulat pada alat refluks yang telah dihubungkan  dengan kondensor
6. Dipanaskan sampel selama 1 jam
7. Disaring ekstrak yang diperoleh dengan kertas saring
8. Langkah di atas dilakukan hingga semua sampel selesai direfluks
9. Dirotavapor ekstrak yang telah disaring
    

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1. Uji Organoleptis
          Bau       : Pekat/khas
          Bentuk : Setelah di ekstraksi didapatkan ekstrak cair yang berwarna coklat pekat

IV. 2 Tabel
Metode ekstraksi
Berat Sampel (gram)
Volume Pelarut (ml)
   Refluks
150 gram
950 ml
IV.3 Gambar 
                                                                                                                                          



 BAB V
PEMBAHASAN
            Pada percobaan ekstraksi ini,kelompok VI menggunakan metode refluks. Refluks merupakan metode ekstraksi dimana uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor dan akan menyari sampel secara kesinambungan pada labu alas bulat.
            Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses ini sebaiknya ditambahkan batu didih dalam labu alas bulat untuk meredam letupan-letupan dalam tabung agar tidak terjadi bumping. Batu didih ini merupakan batu yang berasal dari pecahan porselin yang diaktifkan dengan cara perebussan selama kurang lebih 15 menit. Batu didih yang telah diaktifkan akan memiliki pori-pori yang lebih besar sehingga mampu menarik letupan-letupan kedalam pori-porinya.
            Dalam proses refluks ini digunakan simplisia kering sebanyak 50 gram dengan volume pelarut sebanyak 350 ml, yang dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam proses refluks ini digunakan alat-alat yang telah dirancang sedemikian rupa agar volume senyawa yang ada di dalamnya tidak berkurang. Alat refluks ini dilengkapi dengan kondensoryang berbentuk bola-bola kaca yang di dindingnya dialiri dengan air dingin, sehingga uap-uap dari zat akan  menempel pada dinding bola-bola kaca yang kemudian akan mengembun dengan adanya air dingin pada dinding luarnya, lama-kelamaan uap yang menempel tersebut akan turun kembali. Jadi semakin banyak bola-bola kaca semakin baik karena uap yang dhasilkan akan semakin sulit untuk dikeluarkan.
            Dalam percobaan ini diperoleh sampel refluks dengan warna coklat pekat, namun belum berbentuk ekstrak kental. Untuk memperoleh ekstrak kental masih diperlukan proses lebih lanjut berupa rotavapor.




BAB VI

PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang kami dapatkan dari percobaan ekstraksi yaitu :
1. Metode ekstraksi  yang digunakan pada sampel X yaitu metode refluks
2.  Warna sampel kulit batang X setelah di ekstraksi berwarna coklat pekat

VI.2. Saran
Sarana dan prasarana laboratorium mohon dilengkapi agar proses praktikum dapat berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dirjen POM, (1986), "Sediaan Galenik", Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
2.  Alam, Gemini dan Abdul Rahim. 2007. Penuntun Praktikum Fitokimia. UIN Alauddin:    Makassar. 24-26.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar